Malam tanpa bintang tidak menyusutkan semangat untuk sang pemimpi dikala sinar lilin menerangi dan dimeriahkan paduan suara jangkrik yang bernyanyi ditengah kebisuan malam yang menunggu mentari menyambut pagi dengan semangat baru. '_'

Kamis, 07 Juni 2012

BENTUK DAN MAKNA/ARTI PREPOSISI BAHASA KEPULAUAN TUKANG BESI DIALEK TOMIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang dan Masalah
1.1.1  Latar Belakang Penulisan
  Di Indonesia terdapat sejumlah bahasa daerah sehingga bagi sebagian besar penduduk negeri ini bahasa Indonesia adalah bahasa kedua (Halim 1976:55). Hal itu mengakibatkan terjadinya kontak yang sangat intensif antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah.
                   Mengingat pentingnya bahasa daerah sebagai pendukung bahasa Indonesia sekaligus pendukung kebudayaan nasional, kegiatan pengkajian bahasa daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga menjadi tanggung jawab kita semua terutama masyarakat pengguna bahasa daerah itu sendiri. Oleh karena itu, pembinaan dan pengembangan bahasa daerah  melalui berbagai kegiatan penelitian sangat penting karena hal itu dapat mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa serta dapat menanamkan rasa saling menghargai antar sesama warga negara tanpa membeda-bedakan antara  suku yang satu dengan suku yang lainnya.
Bahasa Kepulauan Tukang Besi merupakan salah satu bahasa daerah yang tersebar di Sulawesi Tenggara dan dalam  bahasa ini terdapat empat dialek yakni dialek  Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Keempat dialek tersebut hingga saat ini masih tetap diwariskan dan tetap dipelihara secara turun temurun oleh penduduk yang mendiami pulau tersebut.
 Bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia seperti halnya  bahasa daerah lainnya juga mempunyai sistem, khususnya dari segi tata bahasa. Di antara tata bahasa tersebut adalah kata depan atau preposisi. Preposisi  dapat ditentukan berdasarkan ciri morfologis dan ciri sintaksis. Secara morfologis pada umumnya kata preposisi sukar sekali mengalami perubahan bentuk, dan secara sintaksis kata golongan ini tidak dapat menduduki fungsi subjek, predikat, dan objek, melainkan berfungsi untuk memperluas atau mengadakan transformasi kalimat.

Salah satu hal yang menarik untuk membicarakan masalah preposisi bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia ini adalah dari segi bentuk, makna dan penggunaannya. Preposisi bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia tidak hanya terdiri atas bentuk monomorfemis (satu morfem), seperti ako (menandai hubungan peruntukan), mina (menandai hubungan asal dan arah), kene (mengandung arti kesertaan atau cara), dan lain-lain. Contohnya “teboku ibafa waleli ako yaku.”
 Preposisi bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia juga terdiri  atas bentuk lain seperti preposisi berafiks (preposisi yang dibentuk dengan mengikutsertakan afiks pada bentuk dasar nohadamo “menandakan hubungan waktu atau arah ke suatu tempat” afana “menandai hubungan sumber”, preposisi majemuk (preposisi yang dibentuk lebih dari satu, misalnya ara nggala “menandai hubungan perbandingan” appa, kene “menandai hubungan batas waktu”. Bahkan ada pula bentuk preposisi gabungan, seperti ifafo, iforu, ilalo, mina itonga, mina iluara, dan lain-lain.
1.1.2  Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah penelitian ini yaitu “Bagaimanakah bentuk dan makna/arti preposisi bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia?”

1.2  Tujuan dan Manfaat Penulisan
1.2.1  Tujuan Penulisan
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan makna preposisi bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia.
1.2.2  Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Sebagai masukan bagi pembinaan dan pengembangan preposisi bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia.
2.    Sebagai salah satu bahan acuan dalam upaya penggalian bentuk dan makna/arti berbagai aspek tata bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia selanjutnya, baik dari segi fonologis, morfologis, maupun dari segi sintaksisnya.
1.3  Batasan Operasional
Secara operasional, istilah-istilah yang berkaitan dengan judul penelitian ini dijelaskan sebagai berikut :
1.    Preposisi adalah kata tugas yang bertugas sebagai unsur pembentuk frasa preposisional, terletak di bagian  awal frasa dan unsur yang mengikutinya dapat berupa nomina, adjektiva, atau verba.
2.    Di lihat dari segi bentuknya preposisi terdiri atas :
1)    Preposisi monomorfemis yaitu preposisi  yang terdiri hanya satu morfem saja dan karena itu tidak dapat diperkecil lagi bentuknya.
2)    Preposisi polimorfemis yaitu preposisi yang dibentuk dengan memakai afiks, atau menggabungkan dua kata atau lebih.
3.    Arti preposisi adalah makna preposisi yang dikaji setelah preposisi  ini digabungkan dengan unsur- unsur  lain kedalam kalimat misalnya unsur  Verba, Nomina, Adjektiva, Konjungsi.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1    Pengertian  Preposisi
Hampir semua buku tata bahasa membicarakan masalah preposisi. Dalam buku-buku tata bahasa Indonesia pada umumnya kata depan ditentukan secara tradisional, sebagai kata yang menyatakan hubungan atau pertalian antara pengertian yang satu dengan yang lainnya (Ramlan, 1987:13). Berbeda dengan penentuan di atas, yaitu penentuan yang dilakukan oleh Keraf, Slametmuljana, Wojowasito, DR. T. Fatimah, A. M. Fangindae, dan Moeliono.
Keraf dalam bukunya Tata Bahasa Indonesia (cetakan ketiga) menentukan kata depan berdasarkan ciri morfologi dan ciri sintaksis. Secara morfologis, pada umumnya kata depan sukar sekali mengalami perubahan bentuk, dan secara sintaksis kata golongan tersebut tidak dapat menduduki fungsi subjek, predikat, dan objek, melainkan berfungsi untuk memperluas atau mengadakan transformasi kalimat. Selain itu, kata depan tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat.
Slametmuljana (1967) dalam bukunya Kaidah Bahasa Indonesia (jilid 2) menentukan preposisi berdasarkan fungsi kata dalam kalimat. Berdasarkan fungsinya kata-kata itu digolongkan menjadi empat bagian, dan preposisi termasuk golongan keempat, yakni golongan pembantu pertalian.
Wojowasito dalam bukunya Pengantar Sintaksis Indonesia menentukan kata depan berdasarkan ciri sintaksis, bahwa kata golongan ini memiliki fungsi adverbial dan biasanya terletak di muka kata benda. Selain itu, dikemukakan juga bahwa kata golongan ini menyatakan hubungan antara pernyataan yang terkandung dalam kata-kata di muka dan di belakangnya.
Moeliono dalam bukunya Penyusunan Tata Bahasa Struktural menyinggung pula masalah preposisi. Menurutnya kata preposisi yang termasuk ke dalam partikel merupakan kata yang pada umumnya mendahului kata nominal dan tidak pernah terdapat pada akhir kalimat.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapatlah dikemukakan bahwa preposisi adalah kata tugas yang bertugas sebagai unsur pembentuk frasa preposisional. Preposisi terletak di bagian awal frasa dan unsur yang mengikutinya dapat berupa nomina, adjektiva, atau verba.
2.2    Jenis- jenis Preposisi
Kridalaksana (1993:55-97) mengemukakan preposisi terbagi atas tiga jenis, yaitu sebagai berikut :
1)    Preposisi dasar, yakni preposisi yang tidak dapat menghalangi proses morfologis.
2)    Preposisi tuturan yang terbagi atas dua bagian, yaitu (1) gabungan preposisi, dengan preposisi, dan (2) gabungan preposisi dan non preposisi.
3)    Preposisi yang berasal dari kategori lain, misalnya pada, tanpa, dan sebagainya, termasuk beberapa preposisi yang berasal dari kelas kata lain yang berprefiks se- misalnya selain, semenjak, dan sebagainya.
2.3    Ciri-ciri Preposisi
Ciri-ciri preposisi dapat diketahui melalui beberapa cara yaitu :
1)    Secara morfologis, preposisi sukar sekali mengalami perubahan bentuk, walaupun ada yang mengalami perubahan bentuk.
2)    Secara sintaksis, preposisi tidak dapat menduduki fungsi subjek, predikat, dan objek dalam kalimat.
3)    Secara semantik, preposisi tidak dapat memiliki arti leksikal.
4)    Dari segi distribusinya, preposisi tidak pernah terdapat diakhir kalimat dan biasanya mendahului nomina (Ramlan, 1987:16)
Jika dilihat  dari manifestasi kriteria fungsi, maka preposisi (1) menyatakan pertalian kata benda tertentu dengan kata lain dalam kalimat, (2) menyatakan pertalian makna kata-kata atau bagian-bagian kalimat atau penanda konstruksi frasa eksosentris.
2.4    Bentuk Preposisi
Jika ditinjau dari segi bentuknya, preposisi dapat dibagi kedalam dua bentuk yaitu  (1) preposisi monomorfemis dan (2) preposisi polimorfemis (Alwi, 1993:230). Uraian mengenai kedua preposisi tersebut adalah sebagai berikut.

2.4.1    Preposisi Monomorfemis
preposisi  monomorfemis adalah preposisi yang terdiri hanya  morfem saja dan karena itu tidak dapat diperkecil lagi bentuknya. Preposisi monomorfemis dalam bahasa Indonesia dicontohkan seperti :
a.    Bagi, untuk, buat, guna itu menandai hubungan peruntukan
b.    Dari, dengan, di itu menandai hubungan asal, arah, dari suatu tempat, menandai hubungan kesertaan atau cara, dan menandai hubungan tempat berada
c.    Ke yaitu menandai hubungan arah menuju suatu tempat
d.    Oleh yaitu menandai hubungan pelaku
e.    Pada yaitu menandai hubungan tempat atau waktu
f.    Tentang yaitu menandai hubungan antara ihwal atau peristiwa
g.    Sejak yaitu menandai hubungan waktu dari saat yang satu ke saat yang lain
2.4.2    Preposisi Polimorfemis
Preposisi polimorfemis terdiri atas tiga macam (1) polimorfemis berafiks, (2) polimorfemis berupa gabungan kata, dan (3) polimorfemis majemuk.
2.4.2.1    Preposisi  Polimorfemis dengan Afiks
Preposisi polimorfemis dibentuk dengan menempelkan afiks pada dasar. Dasar itu dapat berupa morfem bebas (sama, serta), atau morfem terikat (jelang). Preposisi polimorfemis yang berafiks dalam bahasa Indonesia dicontohkan seperti :
    Bersama, beserta yaitu menandai hubungan kesertaan
    Menjelang yaitu menandai hubungan waktu sesaat sebelum
    Menuju yaitu menandai hubungan tujuan
    Terhadap yaitu menandai hubungan arah
    Bagaikan yaitu menandai hubungan kemiripan
2.4.2.2    Preposisi Polimorfemis Berupa Gabungan Kata
Preposisi polimorfemis berupa gabungan kata adalah berupa gabungan preposisi dengan preposisi atau dapat juga berupa gabungan preposisi dengan yang bukan preposisi. Preposisi yang demikian dalam bahasa Indonesia dicontohkan seperti :
Di atas, di bawah, ke depan, ke luar, yaitu menandai hubungan arah/tempat
       2.4.2.3 Preposisi Polimorfemis Majemuk
Preposisi polimorfemis majemuk adalah preposisi yang terdiri atas lebih dari satu preposisi, seperti terlihat pada contoh berikut :
Daripada yaitu menandakan hubungan perbandingan
Oleh sebab yaitu menandakan hubungan sebab
       Sampai dengan yaitu menandakan hubungan makna batas waktu   yang ditentukan
2.5    Arti Preposisi
2.5.1    Arti Preposisi Monomorfemis
Preposisi monomorfemis adalah preposisi yang terdiri hanya atas  morfem dan karena itu tidak dapat diperkecil lagi bentuknya, seperti :
a.    Preposisi yang menandai hubungan peruntukan
Contoh :
             Buku yang dibawa Leli untuk saya
b.    Preposisi yang menandai hubungan arti/makna arah dan kesertaan (cara)
Contoh :
             Saya pergi sekolah dengan Ani
c.    Preposisi di yang menunjukan makna “tempat berada”
Contoh :
             Ani tinggal di Tomia
d.    Preposisi yang menandai hubungan makna pelaku (oleh)
Contoh :
              Dia berangkat pada hari senin
e.    Preposisi yang menandai hubungan makan tempat atau makna (pada)

2.5.2    Arti Preposisi Polimorfemis
Preposisi polimorfemis terdiri atas 2 yaitu polimorfemis berafiks, majemuk dan polimorfemis gabungan kata.
2.5.2.1    Arti Preposisi Polimorfemis Berafiks
Preposisi polimorfemis berafiks adalah preposisi yang dibentuk dengan menempelkan afiks pada dasar.
a.    Preposisi yang menandai hubungan kesertaan (bersama, beserta)
Contoh :
              Ani ke pasar bersama Leli
b.    Preposisi yang menandai hubungan waktu sesaat setelah (menjelang)
Contoh :
              Dia tiba di Tomia menjelang malam
c.    Preposisi yang menandai hubungan kemiripan (bagaikan)
Contoh :
              Mukanya bulat bagaikan donat
2.5.2.2    Arti Preposisi Berupa Gabungan Kata
Preposisi berupa gabungan kata adalah preposisi berupa gabungan preposisi dengan preposisi atau dapat juga dapat berupa gabungan preposisi dengan yang bukan preposisi.
    Preposisi menandai hubungan arah/tempat (di atas, di bawah, ke depan, ke luar)
Contoh : 
•    Tolong ambilkan sepatu di atas rak
•    Ani menyapu di bawah kolong
•    Angkat pot ini ke depan rumah
•    Sejak tadi pagi dia keluar rumah

2.5.2.3    Arti Preposisi Polimorfemis Majemuk
Preposisi polimorfemis majemuk adalah preposisi yang lebih dari satu preposisi, seperti daripada, oleh sebab, sampai dengan.
a.    Preposisi  menandai hubungan perbandingan (daripada)
Contoh :
               Ani lebih cantik daripada Leli
b.    Preposisi menandai makna hubungan sebab
Contoh :
               Oleh sebab kebaikannya makanya   dia disukai orang banyak.

BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
   
3.1 Metode dan Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif karena dalam penelitian ini berhubungan langsung dengan pengumpulan data, dan pengkajian data yang mana data-data tersebut disajikan dalam bentuk penggambaran fenomena yang diteliti dengan panjang lebar dan disertai dengan cuplikan-cuplikan cacatan pengamatan maupun rekaman/ transkip wawancara. Penggunaan metode ini bertujuan membuat deskripsi yang sistematis dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Djajasudarma,1993:8)
Dilihat dari jenisnya penelitian ini termasuk penelitian lapangan. Dikatakan penelitian lapangan karena keseluruhan data yang dikumpulkan umumnya diperoleh di lapangan.
3.2 Data dan Sumber Data   
3.2.1 Data
Data penelitian ini adalah data bahasa lisan berupa tuturan-tuturan dalam frase, klausa, atau kalimat dalam Bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia.
3.2.2 Sumber Data
Terkait dengan data yang dikemukakan di atas maka sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa sumber data lisan. Sumber data lisan tersebut diperoleh dari para penutur asli bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia yang berdomisili di kelurahan Tongano Timur tepatnya di lingkungan Pobantaa. Adapun kriteria informan  atau sumber data yaitu:
    Berumur 40 tahun ke atas.
    Memiliki pengertian terhadap keperluan penelitian.
    Minimal memahami atau berpengetahuan tentang masalah yang sedang diteliti.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini adalah metode cakap dan simak. Metode cakap adalah metode yang digunakan dengan melakukan kontak antara peneliti (selaku peneliti) dan penutur selaku nara sumber atau informan (Sudaryanto, 1993:137). Metode cakap tersebut diikuti pula dengan metode simak, yaitu suatu metode yang digunakan oleh peneliti dengan cara menyimak penggunaan bahasa yang dituturkan oleh informan (Sudaryanto, 1993:133).
Teknik yang digunakan dalam penelititan ini adalah teknik rekam dan teknik catat (Sudaryanto, 1992:33). Penggunaan teknik rekam didasarkan pada pertimbangan bahwa data yang diteliti adalah berupa data lisan. Sehingga dapat dilakukan, baik dengan berencana dan sistematis maupun dengan serta merta (sadap rekam). Dengan demikian, teknik rekam merupakan teknik utama bagi pengumpulan data penelitian ini, sedangkan teknik catat hanya sebagai koreksi terhadap hasil rekaman yang kurang jelas.
3.4 Teknik Analisis Data
Dalam penganalisisan data, penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dan pendekatan semantik. Penggunaan kedua jenis pendekatan ini sesuai dengan objek penelitian, yakni preposisi bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia yang dikaji dari aspek bentuk dan makna (arti). Kedua pendekatan tersebut digunakan sejalan dengan pandangan Sausure (1916) yang menyatakan bahwa bahasa merupakan sistem yang unsur-unsurnya saling berhubungan untuk membentuk satu kesatuan makna yang utuh (Djajasudarma, 1993:60).
Berkaitan dengan metode tersebut, maka teknik yang digunakan untuk menganalisis data  penelitian ini adalah teknik kajian menurun (too down). Dengan teknik ini diharapkan dapat diperoleh bentuk, arti/makna, dan penggunaan dalam bahasa  Tomia.
Analisis dengan kajian menurun dilakukan seperti pada konteks kalimat yang mengandung preposisi bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Tomia berikut ini.
Teboku ibafa waleli ako yaku
Buku  yang dibawah leli  untuk saya   

    DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 1999. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi ketiga). Jakarta:   Balai Pustaka.
Chaer. 1987. Tata Bahasa Praktik Bahasa Indonesia. Jakarta: Bahrata.
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Metode Linguistik (ancangan metode penelitian dan kajian). Bandung: 
Keraf, Gorys. 1983. Tata Bahasa Indonesia (cetakan ketiga). Ende –Flores: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik (edisi terbaru). Jakarta: Gramedia.
Moeliono, Anton. 1976. Penyusunan Tata Bahasa Struktural. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa Indonesia
Ramlan. 1987. Kata Depan atau Preposisi dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Karyono.   
Slametmuljana. 1967. Kaidah bahasa Indonesia (jilid dua). Jakarta: Djambatan.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis bahasa. Yogyakrta: Gajah Mada Universitas Press.











FUNGSI DAN KATEGORI KATA DALAM KALIMAT IMPERATIF BAHASA TOLAKI



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
    Peranan bahasa sebagai media komunikasi sangat penting. Bahasa digunakan pada berbagai aktifitas kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yaitu bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita,melahirkan perasaan dan memungkinkan menciptakan kerjasama dengan sesama masyarakat.
    Bahasa merupakan budaya yang terus berkembang. Seiring zaman bahasa juga mengalami perkembangan. Bahasa sangat penting bagi manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain begitupun dengan manusia yang menjadi subjek bahasa agar tetap bertahan dan berkembang atau sebaliknya, manusia yang membuat bahasa itu punah.
    Sebagai alat untuk mengadakan interaksi dan adaptasi sosial, bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Bahasa sebagai sarana manusia untuk berbagi pengalaman, berkenalan dengan orang lain, serta dapat menyatukan anggota-anggota  masyarakat. Melalui bahasa masyarakat secara bertahap dapat belajar mengenai bahasa seperti, adat istiadat, tingkah laku, dan tata krama.
    Menurut Halim (dalam Yusman, 1995:1) bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan daerah maka fungsi bahasa-bahasa daerah adalah sebagai1) lambang kebanggaan daerah, 2) lambang identitas daerah, 3) alat penghubung dalam keluarga dan masyarakat daerah. Hubungannya dengan bahasa indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai 1) pendukung bahasa nasional, 2) bahasa pengantar di sekolah dasar, 3) alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah.
    Menurut Michael Halliday (Tarigan 1990: 6-8) dalam bukunya yang berjudul “Exporations in the function of language”(1973). Mengemukakan  tujuh   fungsi bahasa yaitu fungsi instrumental, fungsi regulasi, fungsi refresentasional, fungsi interaksional, fungsi personal,fungsi heuristik, dan fungsi imajinatif.
    Bahasa daerah adalah bagian dari kebudayaan indonesia yang hidup berdampingan dengan masyarakat penuturnya dan memiliki fungsi dan kedudukan yang sangat penting. Salah satu fungsinya adalah sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah khususnya sekolah dasar pada daerah tertentu.
    Pentingnya kedudukan dan fungsi  bahasa daerah dalam kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan bahasa  maka perlu adanya pelestarian dan pengembangan bahasa daerah. Oleh karaena itu diperlukan berbagai cara dalam melestarikannya saperti penggalian, pencatatan dan penelitian perlu mendapat respon yang positif agar ciri kedaerahan tidak hilang.
    Bahasa dimuka bumi sangat beragam. Di indonesia saja kurang lebih tujuh ratus bahasa berkembang dengan beragam dialek selain bahasa indonesia itu sendiri. Indonesia yang terdiri dari banyak pulau memiliki beragam bahasa daerah serta  dialeknya dari  setiap bahasa. Provinsi  Sulawesi Tenggara terdapat beberapa jenis bahasa daerah  seperti bahasa Tolaki, Muna, Buton , CiaCia, Bugis, Mornene dan masih banyak lainnya. . Salah satu bahasa  tersebar dibeberapa kabupaten seperti kabupaten kolaka.  Kabupaten konawe, dan kabupaten konawe selatan yaitu Bahasa Tolaki.
Penelitian dalam menentukan fungsi dan kategori kata  kalimat imperatif bahasa Tolaki, dapat dicirikan dalam satu konstruksi berikut.



1.    Lakoto  pelingasii nggiroo orembu ipambalaika        Kalimat perintah bahasa Tolaki
Pergilah bersihkan itu rumput di samping rumah           Terjemahan Glos
Bersihkanlah rumput di samping rumah                Terjemahan langsung
       S           P            O          Ket
Konstruksi tersebut merupakan salah satu contoh kalimat imperatif bahasa Tolaki yang menempati empat fungsi sintaksis yaitu: lakoto(pergilah) menempati fungsi subjek (S) menduduki kategori verba (V) sebagai bentuk perintah atau suruhan untuk melakukan perbuatan/pekerjaan; pelingasii (bersihkan) menempati fungsi predikat (P) menduduki kategori verba (V) sebagai bentuk tindakan atau realisasi tindakan dari perintah; ngiroo orembu (itu rumput) menempati fungsi objek (O) menduduki kategori nomina (N) sebagai penderita; dan ipambalaika (rumput) menempati fungsi keterangan (Ket.), menduduki kategori nomina (N) berperan sebagai tempat kejadian.
Data diatas menunjukan bahwa struktur dan bentuk kalimat imperatif bahasa Tolaki memiliki karakteristik. Ditinjau dari strukturnya, bahasa Tolaki memiliki perbedaan mendasar dengan struktur bahasa Indonesia. Perbedaannya terletak pada ketidaksamaan struktur bahasa daerah Tolaki dan bahasa Indonesia. Bahasa daerah Tolaki khususnya dalam konstruksi kata yang jika diterjemahkan langsung memiliki perbedaan dengan terjemahan glosnya. Jika diterjemahkan langsung, maka satuan lingualnya dapat berubah dari segi bentuk, struktur serta maknanya. Dari penjelasan diatas maka bentuk dan kategori  kata akan berbeda dari cara  menerjemahkan kata dalam  kalimat dan akan berbeda pula dalam peran semantisnya.
    Upaya yang telah dilakukan dalam pengembangan bahasa daerah telah banyak dilakukan peneliti sebelumnya mengenai sapaan, reduplikasi, afiksasi, kalimat imperatif  dan masih banyak lainnya namun masih terdapat kekurangan dalam penelitian yang telah dilakukan. Oleh karena itu perlu untuk melengkapi penelitian sebelumnya maka perlu dilakukan penelitian selanjutnya mengenai fungsi dan kategori kata dalam kalimat imperatif bahasa tolaki.

    Penelitian yang telah disebutkan di atas belum pernah diteliti masalah fungsi dan kategori kata bahasa Tolaki khususnya dalam kalimat imperatif. Kalimat imperatif bahasa tolaki sangat penting karena kehadirannya dalam percakapan sehari-hari sangat diperlukan karena dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi masysrakat, khususnya penutur asli bahasa Tolaki.
    Dari penjelasan di atas, maka dipandang perlu dilakukan penelitian  khusunya mengenai” kalimat imperatif bahasa Tolaki dari segi fungsi dan kategori kata”.
1.1.2  Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka  masalah dalam penelitian ini  yaitu “Bagaimanakah  fungsi dan kategori kata  dalam kalimat imperatif bahasa Tolaki?”
1.2    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.2.1 Tujuan Penelitian
    Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fungsi dan kategori kata dalam kalimat imperatif bahasa Tolaki.
1.2.2    Manfaat Penelitian
    Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh manfaat sebagai berikut:
1.    Sebagai usaha penyelamatan, pembinaan, pengembangan dan pembelajaran bahasa.
2.    Kepentingan pengajaran bahasa mulai tingkat permulaan hingga tingkat pendidikan tinggi, khususnya lembaga pendidikan yang memberlakukan kurikulum muatan lokal.

1.3    Batasan Istilah
    Pada suatu penelitian, pemahaman istilah dipandang sebagai suatu keharusan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah kesalahan penafsiran istilah yang terdapat dalam pembahasan penelitian. Adapun istilah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Kalimat adalah satuan ujaran yang mengungkapkan sebuah pokok pikiran baik dalam wujud lisan maupun tulisan yang ditandai oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun dan naik serta penggunaan huruf kapital pada awal kalimat dan diakhiri dengan tanda baca
2. Kalimat imperatif adalah kalimat yang mengharapkan lawan bicara dapat melakukan suatu tindakan atau perbuatan.
3.    Fungsi merupakan suatu  tempat dalam kalimat dengan unsure pengisi berupa  bentuk yang tergolong dalam kategori dan mempunyai peran semantik tertentu.
4.    Kategori adalah bagian dari system klasifikasi, hasil pengelompokan unsure-unsur yang menggambarkan pengalaman manusia, suatu bahasa yang anggota-anggotanya mempunyai perilaku sintaksis dan hubungan yang sama.
5.    Struktur adalah pengaturan pola-pola kalimat dalam bahasa secara sintakmatik.









BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1Pengertian Kalimat
    Wendi Widya Ratna Dewi (2009 : 1), Menyatakan bahwa kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun dan naik. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, keras lemah, disertai jeda, dan diakhiri intonasi naik atau turun. Dalam wujud tulisan kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik (.), tanya (?), atau seru (!). dalam kalimat yang berbentuk tulisan juga dapat menyertakan tanda koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-), atau spasi (_).
    Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh (Alwi dkk.2010:317). Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru, sementara itu , didalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma, titik dua, tanda pisah, dan spasi. Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru sepadan dengan intonasi akhir, sedangkan tanda baca lain sepadan dengan jeda. Spasi yang mengikuti tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru melambangkan kesenyapan.
    Widjono Hs (2011: 146), menyatakan bahwa kalimat adalah kesatuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran. Dalam bahasa lisan diawali dan diakhiri dengan kesenyapan, dan dalam bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik,tanda seru, atau tanda tanya.
    Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kalimat adalah bagian ujaran yang di dahului dan diikuti kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.
    Moeliono (1993 : 29 ), menyatakan bahwa kalimat umumnya berwujud rentetan kata yang disususn sesuai dengan kaidah yang berlaku. Setiap kata termaksud kelas kata atau kategori kata, dan mempunyai fungsi dalam kalimat. Pengurutan rentetan kata serta macam kata yang dipakai dalam kalimat menentukan pula macam kalimat yang dihasilkan.
    Selanjutnya, menurut Badudu (1995:18)  kalimat tersusun dari kata-kata , frasa, atau kalusa. Pada kalimat tunggal yaitu kalimat yang terdiri atas satu kalusa unsur kalimat ialah kata dan frasa.
    Cook, Elson dan Pickett (dalam Tarigan 1971: 39-40 1969: 82), menyatakan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative dapat berdiri sendiri yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa   
    Senada dengan penjelasan kalimat diatas, Gorys Keraf mengemukakan kalimat adalah suatu bagian  ujaran yang di dahului dan diikuti oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.
    Dari beberapa pengertian kalimat di atas dapat disimpulkan kalimat adalah satuan ujaran yang mengungkapkan sebuah pokok pikiran baik dalam wujud lisan maupun tulisan yang ditandai oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun dan naik serta penggunaan huruf kapital pada awal kalimat dan diakhiri dengan tanda baca.

2.2 Struktur Kalimat Bahasa Indonesia
    Widjono ( 2011: 153), menyatakan bahwa kalimat merupakan sarana komunikasi untuk menyampaikan pikiran atau gagasan kepada orang lain agar dapat dipahami dengan mudah. Komunikasi berlangsung baik dan benar jika menggunakan kalimat yang baik dan benar, yaitu kalimat yang dapat mengekspesikan gagasan secara jelas dan tidak menimbulkan keraguan pembaca atau pendengarnya. Oleh karena itu, kalimat harus disususn berdasarkan struktur yang benar, pengungkapan gagasan secara baik, singkat, cermat, tepat, jelas maknanya, dan santun.
2.3.1 Pola Kalimat
    Kalimat yang jumlah dan ragamnya begitu banyak, pada hakikatnya disusun berdasarkan pola-pola tertentu yang amat sedikit jumlahnya. Penguasaan pola kalimat akan memudahkan pemakai bahasa dalam membuat kalimat yang benar secara gramatikal. Selain itu, pola kalimat dapat menyederhanakan kalimat sehingga mudah dipahami oleh orang lain.
1.    Pola Kalimat Dasar
    Pola kalimat dasar sekurang-kurangnya terdiri atas subjek (S), predikat (P). Pola kalimat dasar mempunyai cirri-ciri :
(1)    Berupa kalimat tunggal ( S,P,O,Pel dan K ).
(2)    Sekurang-kurangnya terdiri dari satu subjek dan satu predikat.
(3)    Selalu diawali dengan subjek.
(4)    Berbentuk kalimat aktif.
(5)    Unsur tersebut ada yang berupa kata dan ada yang berupa frasa, dan
(6)    Dapat dikembangkan menjadi kalimat luas dengan memperluas subjek, predikat, objek, dan keterangan.
Kalimat dasar tersebut dapat dikembangkan menjadi bermacam-macam kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. Kalimat dasar tersebut dapat dijadiakn kalimat luas dengan menambah keterangan-keterangan pada subjek, predikat, atau objek, sesuai  keperluan.
Contoh kalimat dasar:
(1)    Kami /  berdiskusi.
(2)    Para siswa / sedang belajar.
(3)    Mereka / sedang mendiskusikan / tugas kelompok.
(4)    Mereka / sedang mempelajari / kalimat dasar.
(5)    Ekonomi daerah itu / berdasrkan /  pertanian.
(6)    Ketua partai itu /  menjadi / calon presiden.
(7)    Meereka / membelikan /  saya / sepatu .
(8)    Mereka / menjuluki / dia sang / penyelamat.
(9)    Para kepala Negara Asean / sedang bersidang / di Bali
(10) Beberapa karyawan / sedang membahas / kasus bisnis / di ruang rapat.
    Kompleks dan rumit dapat disederhanakan dengan menemukan pola dasrnya sehingga mudah dipahami.
Contoh kalimat luas:
Perhatikan kata yang dicetak miring merupakan kalimat dasar.
(1)    Kami yang mengharapkan kedamaian di Aceh selalu berdiskusi tentang masalah ini.
(2)    Para siswa yang kehilangan gedung sekolah itu sedang belajar bahasa indonesia dengan sarana seadanya.

2.3.2 Pola Kalimat Majemuk
1. Kalimat Majemuk Setara
    Pola kalimat majemuk terdiri dari kalimat majemuk setara dan bertingkat. Masing-masing mempunyai karakter yang berbeda. Kalimat majemuk setara bersifat koordinatif, tidak saling menerangkan. Kalimat majemuk setara ada empat macam, yaitu (a) setara gabungan menggunakan kata dan, serta; (b) setara pilihan menggunakan kata atau; (c) setara urutan menggunakan kata lalu, lantas, dan kemudian; dan (d) setara perlawanan menggunakan kata tetapi.
a.    Kalimat majemuk setara gabungan menggunakan kata dan, serta.
Contoh:
Dosen menjelaskan kalimat majemuk dan mahasiswa mendengarkannya dengan cermat.
Dosen serta mahasiswa bekerja secara kreatif dan inovatif.
b.    Kalimat majemuk setara pilihan menggunakan atau.
Contoh:
Anda pergi ke kampus atau menghadiri seminar?
Anda harus kuliah dengan nilai yang tinggi atau tudak usah kuliah.
c.    Kalimat majemuk setara urutan menggunakan lalu, lantas dan kemudian.
Contoh:
Ia pulang lalu pergi menjemput anaknya.
Kami menyelesaikan kuliah lantas bekerja.
Kami bekerja dan menabung kemudian mengawali bisnis ini.
d.    Kalimat majemuk setara perlawanan menggunakan tetapi, melainkan, sedangkan.
Contoh:
Mahasiswa itu mengharapkan nilai ujian yang tinggi, tetapi malas belajar.
Ia bukan pandai melainkan rajin
Orang itu giat bekerja, sedangkan adiknya malas.
2.    Kalimat Majemuk Bertingkat
    Kalimat majemuk bertingkat disusun berdasarkan jenis anak kalimatnya. Berdasarkan jenis anak kalimatnya (AK), kalimat majemuk bertingkat  dibedakan menjadi delapan macam.
a.    AK keterangan waktu menggunakan kata ketika, waktu, saat, setelah, sebelum.
Contoh:
Mereka segera mencari peluang kerja setelah menyelesaikan studinya.
Waktu diangkat sebagai pejabat, ia belum menunjukkan kewibawaannya.
b.    AK keterangan sebab menggunakan kata sebab, lantaran, karena.
Contoh:
Lalu lintas macet karena karyawan di sekitar jalan itu pulang bersamaan.
Orang itu meninggal karena menderita sakit jantung.
c.    AK keterangan hasil (akibat) menggunakan kata hingga, sehingga, akhirnya.
Contoh:
Tsunami itu dating tiba-tiba akibatnya puluhan ribu penduduk tewas.
Pengusaha itu bekerja keras sehingga berhasil mendapatkan untukg besar.
d.    AK keterangan syarat menggunakan kata jika, apabila , kalau,andaikata.
Contoh:
Andaikata engkau memenangkan lomba itu, bagaimana perasaanmu?
Saya akan santuni orang miskin apabila mendapatkan uang sebanyak itu.
e.    AK keterrangan tujuan menggunakan kata agar, supaya, demi, untuk, guna.
Contoh:
Agar rakyat makmur, kita harus memberikan penyuluhan kerja yang kreatif.
Kita harus bekerja keras demi masa depan yang gemilang.
f.    AK keterangan cara menggunakan kata dengan, dalam.
Contoh:
Dosen itu menerangkan masalah tersebut dengan pendekatan ilmiah.
Dalam menghadapi kesulitan tersebut ia menerima dengan kesabaran.
g.    AK keterangan posesif menggunakan kata meskipun, walaupun, biarpun.
Contoh:
Biarpun baru pukul setengah enem, saya sudah berangkat ke kantor.
Saya akan berupaya meningkatkan kualitas kerja meskipun sulit diwujudkan.
h.    AK keterangan pengganti nomina menggunakan kaya bahwa.
Contoh:
Presiden menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus menegaskan hukum.

3.    Kalimat Majemuk Campuran
Contoh:
1.    Bangsa Indonesia bekerja keras mengejar ketertinggalan ekonomi daerah.
2.    Kinerja bisnis mulai membaik dan perkembangan ekonomi mulai stabil setelah berhasil melangsungkan pemilu secara demokratis.






2.3 Jenis-Jenis Kalimat
2.3.1 Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Klausa
Berdasarkan jumlah klausa kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
1.    Kalimat Tunggal
    Dewi (2009 : 9 ), menyatakan bahwa kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur  inti dan boleh diperluas dengan satu atau lebih unsur-unsur tambahan, asal unsur-unsur tambahan itu tidak boleh membentuk pola baru.
Contoh:
1.    Ibu berangkat ke sekolah.
2.    Adi membaca buku .
Berdasarkan kategori predikatnya kalimat tunggal dibagi menjadi (1) kalimat berpredikat verbal, kalimat berpredikat adjektifal, kalimat berpredikat nominal, kalimat berpredikat numeral, dan kalimat berpredikat preposisional.
1)    Kalimat Berpredikat Verbal
Kalimat yang berpredikat verbal dibagi lagi berdasarkan ada tidaknya objek dalam kalimat dan peran subjek dalam kalimat. Berdasarkan ada tidaknya objek kalimat verbal dibagi menjadi kalimat intransitif, kalimat ekatransitif, dan kalimat dwitransitif.
a)    Kalimat Intransitif
        Kalimat intransitif adalah kalimat yang tidak memerlukan kehadiran objek atau pelengkap.
Contoh:   
1.    Adik menengis.
2.    Fitria tidur.

b)    Kalimat Tratransitif
        Kalimat transitif adalah kalimat yang membutuhkan kehadiran objek. Objek yang diperlukan dalam kalimat transitif dapat satu atau lebih. Kalimat transitif yang hanya memerlukan kehadiran satu objek disebut kalimat ekatransitif. Kalimat yang memerlukan objek dan pelengkap disebut kalimat dwitransitif.
Contoh kalimat ekatransitif
1.    Ida mencari pekerjaan.
2.    Ibu membeli roti.
Contoh kalimat dwitransitif
1.    Ida sedang mencarikan adiknya pekerjaan.
2.    Ibu membelikan roti untuk  adik .
2)    Kalimat Berpredikat Adjektifal
Contoh :
1.    Rambutnya mulai memutih.
2.    Bunga itu merah.
3)    Kalimat Berpredikat Nominal
Contoh :
1.    Pamanku seorang guru bahasa Indonesia.
2.    Wahyu dokter di rumah sakit daerah.
4)    Kalimat Berpredikat Numeral
Contoh :
1.    Rumahnya satu di Sokoraja.
2.    Anak Tari ada dua.

5)    Kalimat Berpredikat Preposisional
Contoh :
1.    Ibu pergi ke sekolah.
2.    Fani sedang ke pasar.
Berdasarkan peranan subjek kalimat verbal dibagi menjadi kalimat aktif dan kalimat pasif.
1)    Kalimat Aktif
    Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berupa pelaku.
Contoh :
1.    Ardi menendang bola.
2.    Bayu menebang pohon.
2)    Kalimat pasif
    Kalimat Pasif adalah kalimat yang subjeknya merupakan penderita atau dikenai pekerjaan.
Contoh :
1.    Bola di tending Ardi.
2.    Pohon ditebang Bayu.

2. Kalimat Majemuk
    Kalimat majemuk adalah kalimat yang berasal dari proses penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih menjadi kalimat baru yang mengandung dua atau lebih klausa kalimat.
Kalimat majemuk dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1)    Kalimat Majemuk Setara
    Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang memiliki hubungan yang setara antar klausa atau kalimat yang membentuknya. Artinya, kalimat satu memiliki kedudukan yang setara dengan kalimat lainnya.
2)    Kalimat Majemuk Bertingkat
    Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang memiliki hubungan yang memiliki hubungan bertingkat antara kausa atau kalimat yang membentuknya.
3)    Kalimat Majemuk Campuran
    Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang memiliki hubungan setara dan bertingkat antara klausa atau kalimat yang membentuknya dalam satu kalimat.

2.3.2    Kalimat Menurut Hubungan Aktor – Aksi
    Kalimat menurut hubungan aktor- aksi,dapat dibedakan atas kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial,  dan kalimat resiplokal. Khusus kalimat aktif dan kalimat pasif kita telah bicarakan dalam uraian klausa verbal ( aktif transitif, aktif intransitif, dan klausa verba pasif).
2.3.3    Kalimat Menurut Kategori Pengisi Fungsi Predikat
    Kalimat menurut kategori pengisi fungsi predikatnya, dapat dibedakan atas kalimat verbal dan kalimat non verbal. Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya di isi oleh kata yang berkategori verba atau yang diverbakan. Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya diisi oleh kata yang berkategori nonverbal, misalnya nomina, adjektiva, numeralia, preposisi, pronominal, demonstatif/penunjuk.
2.3.4    Kalimat Menurut Struktur Internalnya
    Kalimat menurut struktur internalnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat yang berstruktur lengkap dan kalimat yang berstruktur tidak lengkap . kalimat dikatakan berstruktur lengkap jika sekurang-kurangnya memiliki fungsi S dan P ( Konisi, 2011: 42 ). Contoh:
1)    Anak itu rajin sekali ( kalimat lengkap )
2)    Pergi ke semarang ( kalimat tidak lengkap)
2.3.5    Kalimat Berdasarkan Bentuk Sintaksis
    Jenis kalimat berdasarkan bentuk sintsksis dibagi menjadi lima sebagai berikut.
a.    Kalimat Berita atau Deklaratif
    Kalimat berita merupakan kalimat yang berisi pemberitaan. Kalimat bera ita diakhiri dengan intonasi netral dan nada turun. Dalam kalimat berita tidak ada unsur yang di tonjolkan. Kalimat berita juga ditulis dalam kalimat diakhiri tanda titik.
b.    Kalimat Tanya atau Interogatif
    Kalimat tanya adalah kalimat yang berisikan pertanyaan seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk memperoleh jawaban dari pihak yang ditanya. Ciri-ciri kalimat tanya adalah intonasi yang digunakan intonasi tanya, diakhiri dengan nada naik, sering menggunakan kata tanya, dapat pula menggunakan partikel tanya –kah.
c.    Kalimat Perintah atau Imperatif
    Kalimat perintah adalah kalimat yang isinya menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Ciri-ciri kalimat perintah adalah mempergunakan intonasi perintah, diakhiri dengan nada naik pada akhir kalimat, kata kerja yang mendukung isi perintah biasanya merupakan kata dasar, mempergunakan partikel pengeras –lah. Dalam bentuk tulis kalimat perintah diakhiri dengan tanda seru, kalimat perintah dapat berisi permohonan, ajakan, persilaan, larangan, ejekan, atau harapan.


a)    Struktur Kalimat Imperatif
    Ahmad (1996:52), menyatakan bahwa struktur  kalimat imperatif terdiri atas predikat dikuti atau tidak d ikuti –lah, diikuti atau tidak diikuti objek, pelengkap, maupun keterangan.
    Menurut Ahmad struktur kalimat imperatif dapat berupa:
1.    P + (-lah) + O + Ket.
2. Penanda imperatif + (-lah) + S + P + O.
Perhatikan contoh berikut:
1)    Belajarlah engkau dengan sebaik-baiknya!
P/V        O/N    Ket/F.Adj
2)    Janganlah engkau melakukan perbuatan yang tidak terpuji.
Pi/KT            S/N    P/N        O/FN

1.    Fungsi dan Kategori Kata Kalimat Imperatif
1.1    Fungsi dan Kategori
1.1.1    Fungsi
1.    Fungsi Predikat
        Predikat merupakan konstituen pokok yang disertai konstituen subjek di sebelah kiri dan,jika ada,konstituen objek,pelengkap,dan keterangan wajib disebelah kanan. Predikat kalimat biasanya berupa frasa ferbal atau frasa ajektifal. Pada kalimat yang berpola SP, predikat dapat pula berupa frasa nominal,frasa numeral,atau frasa preposisonal, disamping frasa ferbal dan frasa abjektifal. Perhatikan contoh berikut.
a.    Ayahnya guru bahasa inggris (P=FN)
b.    Adiknya dua (P=FNum)
c.    Ibu sedang kepasar (P=FPrep)
d.    Dia sedang tidur (P=FV)
e.    Gadis itu cantik sekali (P=FAdj)
        Kalimat seperti  yang subjeknya FN dan predikatnya FN relative sukar bagi kita untuk mengetahui apakah kalimat itu berpola S-P ataukah P-S. Dalam hal demikian diperlukan cara lain untuk mengenal subjek dan predikatnya.cara yang pertama adalah melihat FN yang dilekati partikel –lah, kalu partikel itu hadir. FN yang dilekati –lah,selalu berfungsi sebagai predikat. Cara yang kedua adalah memperhatikan pola informasi yang digubnakan untuk predikat pada kalimat mempunyai pola intonasi menurun, yaitu (2) 3 1 pada pola S-P dan (2) 3 2 pada pola P-S. Perhatikan contoh berikut.
a.    Pencurinya dia.
Anak itu teman tono.
2-  23   /  2  -   31   #
b.    Dialah pencurinya.
Teman tono anak itu.
2  -  3    2(2)  /  2  -   21#
        Predikat dalam bahasa Indonesia dapat mengisyaratkan makna ‘jumlah’ FN subjek.
Perhatikan contoh berikut.
a)    Penumpang bus itu bergantung.
b)    Penumpang bus itu bergantungan.
    Pada contoh (a) FN penumpang bus itu cenderung bermakna tunggal tetapi pada conto (b), FN penumpang bus itu bermakna jamak oleh kehadiran bentuk verba predikat bergantungan.

2.    Fungsi subjek
    Subjek merupakan fungsi sintaksis terpenting yang kedua setelah predikat. Pada umumnya subjek berupa nomina, frasa nominal,tau kalusa seperti tampak seperti berikut.
a.    Harimau binatang liar.
b.    Anak itu belum makan.
c.    Yang tidak ikut upacara akan di tindak.
Subjek sering juga berupa frasa verbal.Perhatikan contoh berikut.
(a)    Membangun gedung bertingkat mahal sekali.
(b)    Berjalan kaki menyehatkan badan.
    Pada umumnya, subjek terletak di sebelah kiri predikat. Jika unsur subjek panjang dibandingkan dengan unsur predikat, subjek sering juga diletakkan di akhir kalimat seperti tampak pada contoh berikut.
(a)    Manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian tidak banyak.
(b)    Tidak banyak manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian.
    Subjek pada kalimat imperatif adalah orang kedua atau orang pertama jamak dan biasanya tidak hadir. Perhatikan contoh berikut.
(a)    Tolong (kamu) bersihkan meja ini.
(b)    Mari (kita) makan.

3.    Fungsi Objek
    Objek adalah konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang berupa verba transitif pada kalimat aktif. Letaknya selalu setelah langsung predikatnya. Dengan demikian, objek dapat dikenali dengan memperhatikan (1) jenis predikat yang dilengkapinya dan (2) cirri khas objek itu sendiri. Verba transitif biasanya ditandai oleh kehadiran afiks tertentu. Sufiks –kan dan –i serta prefiks meng- umumnya merupakan pembentuk verba transitif. Perhatikan contoh berikut.
a.    Morten menundukkan Icuk.
    Pada contoh diatas icuk merupakan objek yang dapat dikenal dengan mudah oleh kehadiran verba transitif bersufiks –kan : menundukkan.
    Objek biasanya berupa nomina atau frasa nominal. Jika objek tergolong nomina, frasa nominal tak bernyawa, atau persona ketiga tunggal, nomina objek itu dapat diganti dengan pronomina –nya, dan jika berupa pronominal aku atau kamu (tunggal), bentuk –ku dan –mudapat digunakan. Perhatikan contoh berikut.
(a)    Adi mengunjungi pak Rustam.
(b)    Adi mengunjunginya.

4.    Fungsi Pelengkap
    Orang sering mencampuradukan pengertian objek dan pelengkap.hal itu dapat dimengerti karena antara ke dua konsep itu memang terdapat kemiripan. Baik objek maupun pelengkap sering berwujud nomina, dan keduanya juga sering menduduki tempat yang sama, yakni dibelakang verba. Perhatikan contoh berikut:
a.    Dia mendagangkan barang-barang elektronik di Glodok.
b.    Dia berdagang barang-barang elektronik di Glodok.
        Pada kedua contoh diatas tampak bahwa barang-barang elektronik adalah frasa nominal dan berdiri dibelakang verba mendagangkan dan berdagang. Akan tetapi, pada kalimat (a) frasa nominal itu dinamakan objek,sedangkan pada contoh (b) disebut pelengkap, yang juga dinamakan komplemen.
       
    Beberapa contoh pelengkap dengan predikat yang berupa verba taktransitif dan dwitransitif serta adjektiva.
a.    Orang itu bertubuh raksasa.
b.    Negara ini berlandaskan hokum.
c.    Ida benci pada kebohongan.
d.    Dia bertanya kapan kami akan menengoknya.
        Sering kali nomina mempunyai hubungan khusus dengan verba atau adjektiva yang diikutinya sehingga seolah-olah keduanya tidak dapat dipisahkan lagi. Contoh:
a)    Makan waktu            e)  cuci muka
b)    Balik nama            f) tembus cahaya
c)    Masuk hitungan        g) banjir uang
d)    Biru laut            h) kurang darah   
    Gabungan verba atau adjektiva dengan nomina seperti itu merupakan verba atau adjektiva majemuk yang berfungsi sebagai satu kesatuan dalam kalimat. Kadang-kadang hubungan antara nomina dan verba atau adjektiva itu begitu erat sehingga menjadi semacan idiom.

5.    Fungsi Keterangan
    Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah letaknya. Hal ini  dikemukakan pada pola kalimat dasar, keterangan dapat berada di akhir, diawal, dan bahkan ditengah kalimat. Pada umumnya, kehadiran keterangan dalam kalimat bersifat manasuka. Konstituen keterangan biasanya berupa frasa preposisional, atau frasa adverbal.


Perhatikan contoh berikut.
a.    Dia memotong rambutnya.
b.    Dia memotong rambutnya di kamar.
c.    Dia memotong rambutnya dengan gunting.
d.    Dia memotong rambutnya kemarin.
        Unsur di kamar, dengan gunting dan kemarin pada contoh merupakan keterangan yang sifatnya manasuka.Selain oleh satuan yang berupa kata atau frasa, fungsi keterangan selain oleh klausa seperti pada contoh berikut.
a)  Dia memotong rambutnnya sebelum dia mendapat peringatan dari sekolah.
b)    Dia memotong rambutnya segera setelah dia diterima di bank.
    Makna keterangan ditentukan oleh perpaduan makna unsur-unsurnya. Dengan demikian, (a) menyatakan makna waktu, dan sebelumnya dia mendapat peringatan dari sekolah (b) serta serta setelah dia diterima bekerja di bank (b) juga mengandung makna waktu. Berdasarkan maknanya seperti tersebut di atas, terdapat bermacam-macam keterangan.

1.1.2    Kategori
1.    Verba ( kata kerja)
    Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kaliamt karena dalam kebanyakan hal verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lain yang harus atau boleh ada dalam kalimat tersebut. Verba mendekat, misalnya, mengharuskan adanya subjek sebagai pelak, tetapi melarang munculnya nomina dibelakangnya. Sebaliknya, verba mendekati mengharuskan adanya nomina di belakangnya. Perilaku sintaksis seperti ini berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitifan verba.

1)    Pengertian ketransitifan
    Dari segi sintsksisnya, ketransitifan verba ditentukan oleh dua faktor : (1) adanya nomina yang berdiri dibelakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif dan (2) kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Dengan demikian, pada dasarnya verba terdiri atas verba transitif dan verba taktransitif. Verba taktransitif ada pula yang berpreposisi.
2.    Nomina ( kata benda)
    Nomina sering juga di sebut kata benda, dapat di lihat dari dua segi, yakni segi semantic dan segi sintaksis. Dari segi semantis kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata seperti guru, kucing, meja, dan kebangsaan adalah nomina. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri tertentu yaitu:
1) Dalam kalimat yang predikatnya verbal, nomina cenderung menduduki fungus subjek, objek, atau pelengkap.
2) Nomina tidak dapat dijadikan bentuk ingkar dengan tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan dan tidak pernah berkontraks dengan tidak.
 3) Nomina lazimnya dapat di ikuti oleh adjektiva baik secarah langsung maupundngan perantaan kata yang. Dengan demikian, buku dan rumah adalah nomina karena dapat bergabung menjadi buku baru, rumah mewah, atau buku yang baru dan rumah dan mewah.
a.  Bentuk dan Makna
    jika dilihat dari segi bentuk morfologisnya, nomina terdiri atas dua macam, yakni (1) nomina yang berbentuk kata dasar dan (2) nomina yang diturunkan dari kata atau bentuk lain.
    Disamping itu, nomina dapat pula mengalami proses lain seperti seperti proses reduplikasi atau proses pemajemukan dengan kata lain.
 b. Nomina dasar
        Dalam bahasa Indonesia ada nomina yang terdiri atas kata dasar. Karena sifat tersebut, maka nomina seperti itu berbentuk monomorfemik, yakni terdiri atas 1 morfem saja. Berikut adalah beberapa contoh nomina dasar secarah berkelompok.
a)    Nomina umum
Gambar         meja            rumah
Kesatria        minggu        semangat
Malam         pisau            tahun
b)    Nomina khusus
Adik            bawuk            taman
Atas            farida            pekalongan
Batang            selasa            pontianak
Bawah            butir            itu
Dalam             muka            ini
        Jika kita peratikan benar kategori nomi itu baik yang dasar maupun yang turunan, maka akan kita sadari bahwa maka akan kita sadari bahwa di balik kata itu terkandung pula konsep semantis tertentu. Nomina umu gambar, misalnya tidak mempunyai ciri makna yang mengacu di lokasi. Sebaliknya nomina umum meja dan rumah mengandung makna lokasi. Dengan demikian kita dapat membentuk kalimat seperti letakanlah penamu di meja tetapi tidak seperti letakanlah penamu digambar.
c)    Nomina turunan
    Disamping nomina dasar yang bersifat monomofelis, bahasa Indonesia juga mengenal nomina turunan yang bersifat polimorfenis,yakni yang terdiri atas 2 morfem atau lebih. Nomina turunan dibentuk dari nomina dasar atau katagoro kata yang lain, khususnya ferba dan ajektiva. Disamping itu, ada pula kata lain seperti numeralia ddan konjungsi, yang menjadi dasar pembentukan, tetapi jumlahnya tidak banyak. Pada umumnya  nomina turunan di bentuk dengan menambahkan prefiks, supiks, atau konfiks pada bentuk dasar. Dengan demikian kita peroleh nomina turunan seperti pembeli, pembelian, kotoran, perbuatan, persatuan, dan kekuatan.
3.    Adjektiva (kata sifat)
    Adjektiva juga disebut kata sifat atau keadaan, adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat dan keadaan orang, benda, atau binatang. Adapun cirri-cirinya sebagai berikut.
1)    Adjektiva dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan kali.
2)    Adjektiva dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu.
3)    Adjetiva dapat di ingkari dengan kata ingkar tidak.
4)    Adjektiva dapat diulang dengan awalan se- dan akhiran –nya.
5)    Adjektiva pada kata tertentu dapat berakhir antara lain dengan –er, -(w)i, -iah, -if, -al, dan –ik.
    Umumnya sebuah adjektiva diletakkan di berlakang kata  yang diterangkan. Dalam hal ini kita harus waspada terhadap kata lain yang dapat disisipkan antara kedua kata itu yang dapat mengubah status hubungannya.
 Contoh:
(1)    Baju putih
Mobil tua
Rumah mewah

(2)    Baju yang putih
Mobil yang tua
Rumah yang mewah
(3)    Baju itu putih
Mobil itu tua
Rumah itu mewah
    Pada nomor (1) adjektiva putih, tua, dan mewah berdiri langsung dibelakang nomina baju, mobil dan rumah. Bentukan seperti itu bukan kalimat, tetapi frasa.penyisipan pada contoh (2) tidak mengubah status untaikan kata itu menjadi kalimat. Untaian kata pada nomor (2)  tetap merupakan frasa. Sebaliknya, dengan disisipkannyakata seperti itu, Ali,saya, ini, dan mereka pada contoh nomor (3) rentetan kata itu berubah statusnya menjadi kalimat.
a.    Bentuk Adjektiva
     Kebanyakan adjektiva adalah monomorfemis, artinya terdiri atas satu morfem. Namun, ada pula adjektiva yang lebih dari 1 morfem dan karena itu disebut polimorfemis. Berikut adalah contoh adjektiva monomorfemis.
Asin        cerah            kecil
Anggun        ceria            kurus
Besar        mewah            lama
Biru         murah            lemah
Adjektifa yang polimorfemis di bentuk dengan tiga cara yaitu :
(1)    Pengapiksan, (2) pengulangan, dan (3) pemaduan dengan kata lain.
Adjektiva turunan dibentuk dengan memakai apaiks pungutan seperti –i, -iah, dan –wi.

Contoh:
Alami        ilmiah            manusiawi
Insani        alamiah        surgawi
Hewani        lahiria            duniawi
Nabato            jasmania        ragawi
b.    Fungsi Adjektiva
    Adektiva dapat berfungsi sebagai predikat dalam kalimat atau sebagai keterangan pada frasa nominal. Contoh berikut adjektiva yang berfungsi sebagai predikat.
(a)    Gedung yang baru itu sangat megah.
(b)    Setelah menerima rapor, merekapun gembira.
(c)    Sedihlah hatinya, melihat anaknya tidak naik kelas.
(d)    Yang dibelinya kemarin tidak mahal.
(e)    Hatinya tidak akan tenang sebelum suaminya kembali.
4.    Adverbia (kata keterangan)
    Adverbial adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Dalam kalimat saya ingin lekas-lekas pulang, kata lekas-lekas adalah adverbial yang menerangkan verba pulang.
    Adverbial sebagai katagori harus di bedakan dari keterangan sebagai fungsi kalimat. Jadi, dalam kalimat dia datang kemarin, kata kemarin berkata gori nomina, tetapi fungsinya adalah keterangan waktu. Adverbial didalam bahasa Indonesia dapat di klasifikasikan dengan mempertimbangkan (1) bentuk., (2) struktur sintaksis, dan (3) maknanya.



1.    Bentuk adverbia
    Adverbial dapat terdiri atas 1 morfem (monomorfemis) dan dapat pula terdiri atas 2 morfem atau lebuih (polimorfemis). Kata sangat adalah monomorfemis, sedangkan sebaiknya adalah poli morfemis (se-baik-nya). Contoh monomorfemis.
Sangat        Lebih
 Hanya        Segera
    Adverbial yang polimorvemis di bentuk melalui salah satu cara berikut (a) dengan mengulang kata dasar, (b) dengan mengulang kata dasar dean menambahkan sufiks –an, (c) dengan mengulang kata dasar dan menambahkan gabungan afiks se-+-nya, (d) dengan menambahkan gabungan afiks se-nya pada kata dasar, (e) dengan menambah pada kata dasar –nya pada kata dasr.
Contoh:
(a)     Diam-diam            (d) Sebaiknya
Lekas-lekas                  Selekasnya
(b)    Habis-habisan            (e)  Agaknya
Mati-matian                                  Biasanya
(c)    Setinggi-tingginya       
Sedalam-dalamnya

2.    Struktur sintaksis adverbial
    Struktur sintaksis adverbial dapat di lihat melalui dua segi (1) letak struktur dan (2) lingkup struktur. Dari segi letak strukturnya dapat diamati perilaku adverbial yang (a) senantiasa mendahualui kata yang diterangkan, (b) senantiasa mengikuti kata yang diterangkan, dan (c) dapat mendahului atau mengikuti kata yang diterangjkan.
Contoh:
(a) lebih tinggi            sangat indah
Lebih kukuh            hanya menulis
(b) Tampan nian            duduk saja
Jelek benar            merah sekali
(c) jangan lekas-lekas pulang
 Jangan pulang Lekas-lekas
Lekas-lekas dia pulang
    Dari segi bentuk strukturnya dapat di tinjau medan jangkaun adverbial yang terbatas pada satuan frasa dan yang mencapai satuan kalimat. Adverbial yang jangkauannya terdapoat pada frasa adjectival, frasa verbal, frasa adverbial, dan frasa nominal predikatif.
Contoh:
(a)    Tinggi sekali
Agak cantik
(b)    Berlari (dengan) cepat
Lekas-lekas pulang
(c)    Tiba-tiba sekali
Kurang serempak
(d)    Hanya petani
Hanya guru
3.    Makna Adverbia
    Makna adverbial dapat ditinjau dalam kaitannya dengan unsure lain pada suatu struktur (kaitan rasional). Makna rasional adverbial dapat dinikmati pada satuan frasa dan satuan klausa.
1.    Kalimat Seruan atau Eksklamatir
    Kalimat seruan berisi seruan terhadap sesuatu. Kalimat seru menggunakan intonasi yang menunjukkan keheranan, pujian, terkejut, takut, menyapa, atau menawarkan sesuatu. Kalimat seruan duakhiri dengan nada naik. Dalam bentuk tulisan kalimat seru diakhiri tanda seru.

BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1 Metode Penelitia dan Jenis
3.1.1 Metode Penelitian
      Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode ini digunakan dalam pengumpulan, pengkajian data, dan penyajian laporan penelitian.  Penggunaan metode ini untuk membuat deskripsi yang terstruktur dan akurat mengenai data, dan cirri-ciri alami yang ada dalam data penelitian, serta keadaan, dan gejala  kebahasaan bahasa daerah Tolaki khususnya kalimat imperatif bahasa Tolaki.
3.1.2  Jenis Penelitian
    Jenis penelitian ini tergolong penelitian lapangan, karena semua data dalam penelitian ini diperoleh di lokasi penelitian sesuai  dengan masalah penelitian.
3.1.3 Data dan Sumber Data
3.2.1 Data
    Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah  data lisan yang berupa tuturan-tuturan yang bersumber dari  penutur asli bahasa Tolaki.

3.1.2    Sumber Data
    Sumber data dalam penelitian ini berasal dari hasil tuturan yang dituturkan oleh penutur asli (informan). Sebagai seorang informan harus memenuhi Kriteria. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Penutur asli bahasa Tolaki.
2.    Jarang meninggalkan daerah atau lokasi bahasa yang diteliti dalam waktu yang lama.
3.    Sadar dan memahami apa yang diajukan oleh peneliti
4.    Informan sekurang-kurangnya berumur 30-50 tahun.
5.    Memiliki pengertian terhadap keperluan penelitian.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
3.3.1 Metode Pengumpulan Data
    Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ialah metode cakap dan metode simak. Metode simak yaitu metode yang digunakan untuk memperoleh data dengan cara menyimak setiap pembicaraan informan. Metode cakap yaitu metode yang digunakan untuk memperoleh data lisan dengan cara mengadakan kontak langsung secara verbal dengan informan.
3.3.2 Teknik Pengumpulan Data
    Sejalan dengan metode di atas, maka teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik rekam dan teknik catat. Teknik ini dugunakan dengan pertimbangan bahwa data yang diteliti berupa data bahasa lisan. Selain teknik rekam, digunakan pula teknik catat melalui kartu data.


3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
3.4.1 Metode Analisis Data
        Metode yang digunakan dalam menganalisis data yaitu menggunakan pendekatan structural yaitu peneliti berupaya memberikan gambaran secara objektif tentang kalimat imperatif bahasa Tolaki yang dikaji dengan melihat fungsi dan kategiri katanya.
3.4.2 Teknik Analisis Data
              Data yang diperoleh dalam penelitian ini di analisis dengan menggunakan Teknik Pilah Unsur Langsung (PUL). Teknik pilah unsur langsung yaitu memilah data berdasarkan satuan lingual menjadi beberapa bagian atau unsur. Teknik ini dianalisis dengan menggunakan teknik kajian menurun (top down).


      DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan dkk. 2010 . Tata Bahasa  Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Ahmad, 1996. Sintaksis. Jakarta: Direktur Pendidikan Guru danTenaga Teknis.
Dewi , Wendi Widya Ratna . 2009 . Sintaksis Bahasa Indonesia. Klaten : Intan Pariwara.
Moeliono,M Anton. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Tarigan, Hendy Guntur. 1986 . Pengajaran Sintaksis. Bandung :  Angkasa.
Tim Prima Pena. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gitamedia Press.
Widjono Hs. 2011. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.




PROSA LAMA

Prosa lama adalah karya sastra daerah yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:
1.    Hikayat, berasal dari India dan Arab ,berisikan cerita para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib.
2.    Sejarah ( tambo) adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah.
3.    Kisah adalah cerita tentang perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain.
4.    Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal.dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
a.    Fabel adalah cerita yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral.
b.    Mite (mitos) adalah cerita-cerita yang berhubungan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib.
c.    Legenda adalah cerita yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah.
d.    Sage adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian, dan keajaiban seseorang.
e.    Parabel adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan.
f.    Dongeng jenaka adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik yang masing-masing dilukiskan secara humor.
5.    Cerita berbingkai adalah cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya.

PUISI LAMA
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan . Aturan-aturan itu antara lain:
1.    Jumlah kata dalam satu baris
2.    Jumlah kata dalam satu bait
3.    Persajakan
4.    Banyak suku kata tiap baris
5.    Irama
Jenis puisi lama yaitu:
1.    Mantra adalah ucapan-ucapan yang dinggap memiliki kekuatan gaib.
2.    Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait empat baris, tiap baris terdiri dari8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran,2 baris berikutnya isi.
3.    Karmina adalah pantu kilat seperti pantun tapi pendek.
4.    Seloka adalah pantun berkait.
5.    Gurindam adalah puisi yang terdiri dari dua baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
6.    Syair adalah puisi yang bersumber dari arab ,bersajak a-a-a-a, tidak memiliki sampiran.


DONGENG DARI SUKU TOLAKI
1.    Fabel
Odonga Ronga Kolopua
    Laito moiya odonga ano molako-lako ipamba aarano. Sabutuno leu mune ipamba aarano, teposuairo kolopua lako lumele iwiwi iwoy. Te’eni odonga, “ owawo laa lako sinalapole’ akomu kolopua ?” tumutahai kolopua te’eni,” maa kula lako itoonggu meopolaha nggotinoroakonggu. Te’eniotoka hae odonga, “  dadiosi itomu bagemu, keku petadariko ikito auki tundano laa redo mebera mateamu .”te’enitoka kolopua,” ambongupo hae te’eni odonga kumukora rongga umuseka, keto ari mobiti au naniaku.” Tee’enio odonga,” meena pera sawatu’umu ? maa hiato au petotoki mbele’esu, te’embe saa inakuno metotoki meble’esu to’oto keu pomboko walo. Te’enio  kolopua, kioki saru inggo’oto mebele’esu. Tee’enio odongga maa peta’ato mano yamokaa upenoho-noho ilakonoto kolopua inau meta’a ilambamba ano perangga-rangga humikee uluno, kaeno rongga kareno. Mondukaakoeto odongga iwawo osu. Ari-ari woika odongga iwawo osu ano pekupali leuminau tumondokii kolopua iwawo bungguno. Anano amba tundano kolopua uniwuta, aso ipitua iyepo ano tepeoo lako. Iiyee odongga lau-lau no lako top’oto nopondetehanuako kolopua note’eni uneno taanonggoto lepeaaloako rongga matandu keto mate. Saa tepeo’ alowakono kolopua ano mokiy-kiy to’oto nola’amba odongga, kadu’ito nomosa’a uneno.
    Niwinggi-wingito, neolo-oleono kolopua nolumele lumoloi ohoma, lako lumulahai odongga o’aso otembo aro lako tepo tundu odongga. Te’eni kolopua, “ teposua keyto leesu donga kaduito ugau-gau aku, ari kaa tumotoki’aku au polasu ingguni ino peta’akono itoonggu aku powalo.” To’oto nosua’i odongga moero-eroy. Lau-launotoka inau meta’a ilambamba. Ari-arinoikaa kolopua imumu osu’ano omba sumosariri leu liamau tumbei inelare enggeno odongga, iyetoka nggiro’o ni mateakono.

Terjemahan
Rusa dan kura-kura
    Suatu ketika seekor rusa berjalan-jalan kepinggir rawa. Disana ia bertemu dengan seekor kora-kura yang sementara merayap di pinggir rawa. Rusa bertanya “ apa geranggan yang kau perbuat hai kura-kura mundar-mandir dipinggir rawa ini?, “ kura-kura menjawab, “  saya juga sedang mencari sumber penghidupan. “ dengan nada setenggah marah rusa berkata, “ janggan banyak laga, kalau aku mengginkanmu engkau akan tertanam masuk kedalam lumpur sampai mati.” Kura-kura menantang dengan berkata,” jika engkau benar-benar berani dan kuat, maukah kau melawan aku adu betis ?” rusa sangat marah mendengar kata-kata kura-kura, dan iyapun berkata,” jika itu yang kau kehendaki silakan menyerang lebih dahuku sebab bila aku yang mendahului engkau pasti tidak dapat membalas lagi.” Kura-kura semakin menantang dan mengatakan. “ lebihbai engkau yang lebih dahulu.” Rusa mengingatkan kura-kura, “ akirnya kamu menyesal nanti. “ kura-kura menjawab dengan nada lantang,” oh tidak, “ rusa bertanya pula,” baiklah, dan silahkan pasang kuda-kuda.” Kura-kura mengambil ancang-ancang di dekat kaki gunung sementara rusa sudah siap di puncak gunung.
    Dengan aspek terjang yang meyakinkan, rusa menyerang kura-kura yang sudah lama siap di dekat gunung dengan merapatkan dirinya ketanah sambil menyembunyikan kepala, kaki dan tangannya didalam kulit tubunya yang keras seperti batu. Rusa tidak menendang, tetapi langsung menginjak punggung kura-kura dan terbenam kedalam tanah. Dia berfikir bahwa kura-kura tidak dapat keluar lagi   dari dalam tanah bahkan akan mati.  Daripada menunggunya tanpa muncul untuk mengadakan pembalasan, lebih baik aku tinggalkan saja maka rusapun meninggalkan kura-kura, kura-kurapun berhasil keluar dari dalam tanah setelah iya meneliti kesekelilinggnya ternyata rusa sudah lama menghilang. Kra-kura sangat marah iya mulai menggembara di segala penjuru rimbah mencari jejak sang rusa. Suatu ketika iya pun bertemu dengan sang penantangnya yang sombong itu. Kura-kura berkata” akalmu cukup cerdik. Namun, saat ini engkau harus menerimaq pembalasanya. Aku telah berkelana di seputar rimba ini mencarimu dan sekarang perbaiki posisimu sebab aku akan menyerang. Rusa tidak dapat berbuat apa-apa, dan iya langsung mengambil posisis kearah dekat kaki gunung. Dari puncak gunung kura-kura menyerang bagai laksana piring terbang menuju kearah rusa. Seranganya menyasar tepat pada batang hidung rusa, dan akibat ketajaman pinggir kulit punggung kura-kura batang hidung putus sampai kerahang bawah, dan tamatlah riwayat rusa yang sombong itu.

2.    Mitos
Onggabo
La’ito mo’ia toono i Konawe ano kouo’iro oropu, no’opu’i  uti owose ronga kiniku petanu mbopole. Tesaru ieto bara mepate’i nggiroo o uti ronga kiniku, ieto nitamo’ako i Latuanda, lala mola ikita i Olo Oloho i Konawe.
Mbombakaito i Latuanda odahu mo’ etuako nggo pombanino nggiroo o uti ronga kiniku ano poko kali’iki, mokopepate’i. Monggololu bara i Latuanda nopowawokee odahu ma elu-elu iepo ano poko pate’i.
Ari’ipo mepate’iro kolele nggiro’o lala umopu’i toono iepo ona ano lako melambu’i keno laa’ikaa toono tore-toreano uti owose ronga kinikupetanu mbopole. Lakoito kumi’i oaso ano nggambo , laa mepausaki obenggi .no leu ito ona i Latanda nggiroo o ana dalo piara‘i hende ana dowono. Kadu’ito ona oruo anano i Latuanda nolaa monaa oaso oana. Nggiro’o oana dalo ana ndina.
La’itokaa itono nggro’o ana ndina ano poluale . notamoikeeto i Elu Kambuka Sio Ropo Karembutano. Notamoikee o Elu notano niondo inano amano. Notamoikee Kambuka Sio Ropo nomendaa wuuno asioropono. Notamokee korembutano noasobolono tokaa la ki naano uti owose , kiniku petanu mbopole.
No la tahori i Elu moluale ndepebaho’ano i laika. Ie ona nopoluale’to maa ndelako’ito mebaho ialaa.nde terabu ito ona wuuno.
La’ito lako mepali Onggobo ano pode’ai bara tamondo toono i Konawe . lako noto leu mesaera’ko i kua iwawo sambaraono petuha rumuru’i Nggonawe’eha tumakano nggo pe’eka ikita i Konawe eha lako paresai wunua nggiroo keno meena no oputo toono.
Tesaru bara nggiro’o Onggabo inai-inai langgai keno haeano tinamoako  Ndono’oha . Tandeano no owose   norahu’i i Konawe ‘eha sambe’ika ine boko-boko wua mundeno.
La ito lako rumuruhu’i Konawe’eha ano lako mosua bubu ari sinulahi wo’ohu . Te’enitokaa  penaaono kioki no meena no oputo toono , te’embe hae nolaikaa bubu sinulahi wo’ohu ronga no laa o wuu mekalowewe . No’ale ‘i nggiro’o q wuu ano ale wewe’i  sambe hende wua munde male tandeno no mendaa. Te’eni ito penaono mbu’iki teeni mano laa luale momahe nimbone i ulu iwoi.
Laito Onggabo lako rumuru’i Nggonawe’eha ano one sumua’i a huano i Latuanda i kita i Olo Oloho . lako’noto pe’eka lako-lako tuuno meopako lako i laikano i Latuanda ,lau-launo pewiso i pu’u nohu anopehambako mere-rehu ine banggo-banggo .
La ito merehu-rehu ano leu i Latuanda metitiro, notiro ito toono laa merehu-rehu i pu’u nohu tekokoni i  Latuanda lakonoka mesako’oko ale ene rumabu’i karadano ronga padeno . Ano inau umo’arahi no onggo mehoto ,mano tano langga i toono Onggobo momiu-miu. Tendei’tokaa I Latuanda nomokongangono lakonoto metotoono. Lakonoto ene umale’i kalono ano pombesarakee Onggobo.  Mesukokee keno mbe ariano, ohawo otuono.
Nosaru’iketo ona Onggabo imbe ariano ronga otuono nolako. Noteeni Onggobo kulaa lako palii wonua notebawo taniondo toono i Konawe, tumutaha’i tokaa i Latuanda ‘’meenai posarumu toono leu ,inaku tokaa dowo-dowonggu’ino , no opu’ito uti owose ronga kiniku petanu mbopole.” Te’eni hae Onggobo “ki’oki no meena no dowomu tokaa inggoo mbulaika, laanggopo mona oruo luale momahe”. Mano pehapu toka I Latuanda . Laito’kaa megagahi ano te’eni I Latuanda ,”oho mene’i inggo’o toono leu, laa aku monaa oruo luale . Oaso ana dowonggo, oaso ana aio’ananggu, metamo’ako I Elu Kambuka Sio Ropo Karembutano.
Nowawe ito I Latuanda totokono pe’eka i laika . Ieto nopongoni I Latuanda ngito’o toono’ eu no ina-inae ndoono . lakonoto inau u malee kuro mboholeo anoponahunggee , ano posumbelekee oaso kiniku nggo petainahuno. Manuo ponggaa Onggobo sabutunoki aso mbusu kina ano asonggukuti tiolu.
Ieto nihera akono I Latuanda keno mbako’e Onggobo nde tekonokaa ano mohewu wotoluno , laika hae nde owose’aha. No angga ito I Latuanda i Onggobo kobarakaa, kopali-palia, mondoriako.
La’itokaa ano moia Onggobo anopinoko mbe’alo I Elu Kambuka Sioropo Karembutano turunanoto tona Onggabo ono I Elu ano laa turuna anakia I Konawe sambe inggono oleo. Teembe hae i Elu turuna anakia arimbo kei wekoila . Turunano anano I Latuanda ieto itoono tekale ano mbelaa tononggapa i wuta Konawe.

  Terjemahan   
Onggabo

Sekali peristiwa penduduk negeri konawe menjadi punah dihabiskan biawak raksasa dan kerbau berkepala dua. Kisahnya bahwa yang membunuh biawak dan kerbau tersebut adalah bernama Latuanda, penduduk desa Olo Oloho di Kerajaan Konawe.
Latuanda memelihara beratus-ratus ekor anjing untuk mengumpan biawak dan kerbau itu agar ia dapat menombaknya. Di katakan bahwa Latuanda tiga kali membawa anjing beratus-ratus untuk umpanya barulah ia dapat membunuhnya.
Nanti setelah ia membunuh kedua  binatang yang menghabiskan manusia itu barulah ia berusaha menjajaki jika masih ada manusia sisa dan biawak raksasa dan kerbau berkepala dua itu. Di dapatinyalah seorang bayi berada di dalam sebuah tempayan. Kemudian mengambil bayi itu lalu dipeliharanya seprti anak sendiri. Menjadi dualah anak Latuanda karena ia sendiri mempunyai seorang anak .bayi tersebut adalah anak perempuan.
Lama kelamaan anak itu menjadi gadis, dinamakannya “ Elu Kambuka Sio Ropo Korembutano” dinamakannya demikian karena Elu artinya dia telah tidak beribu dan berayah. Kambuka Sia Ropo artinya panjang rambutnya sembilan depa, karembutano artinya sisa ia sendiri yang tidak dimakan oleh biawak raksasa dan kerbau berkepala dua.
Sebelum Elu menjadi gadis ,ia selalu mandi di rumah, tetapi setelah ia menjadi gadis maka biasalah ia pergi mandi di sungai. Disitulah rambutnya tercabut dan dibawah air.
Ketika Onggabo mengembara didengarnya kabar bahwa manusia telah punah di Konawe. Datanglah ia berlabu di muara sampara . lalu turun dan menyusuri sungai Konawe eha hendak datang di konawe memeriksa negeri itu jika benar manusia telah punah.
Kisahnya bahwa Onggobo tersebut adalah laki-laki raksasa. Itulah sebabnya ia dinamakan Ndono’oha. Begitu besarnya maka ia menyusuri Sungai Konawe eha dalamnya air hanya sampai pada betis.
Sementara menyusuri sungai Konawe eha didapatinya sepotong bambu yang baru saja dipotong orang . berkatalah dalam hatinya, tidak benar bahwa manusia disini telah punah sebab terdapat bambu yang baru saja dipotong dan terdapat rambut bergulung. Diambilnyalah rambut itu lalu digulungnya sampai sebesar jeruk karena begitu panjang .berkatalah dalam hatinya ada gadis yang tinggal di suatu desa dihulu sungai.
Akhirnya Onggobo tiba di sutu tempat permandian Latuanda , yakni di Olo Oloho kemudian naiklah ia ke darat dan terus mengikuti jalan menuju rumah Latuanda. tibalah Onggobo di rumah Latuanda dan segera ia masuk di tempat orang menumbuk padi lalu duduk di bangku yang tersedia.
Sementara dia duduk munculah Latuanda dari atas rumah . di lihatnya ada orang sedang duduk di bawah. Terperanjatlah Latuanda lalu ia mundur mencabut tombaknya mengambil parangnya lalu ia berlagak hendak memotong dan menombak tetapi  Onggobo tidak bereaksi apa-apa . akhirnya Latuanda menjadi lelah sendiri dan ia diam lalu ia pergi mengambil kalonya , lalu ia menyambut Onggobo  secara adat dan menanyakan dimana kiranya datangnya dan apa perlunya.
Onggobo lalu mengatakan dari mana datangnya dan apa maksud perjalanannya. Berkatalah Onggobo ‘’ aku dalam perjalanan mengelilingi negeri , karena terkabar telah tiada manusia di Konawe “ menjawablah Latuanda “ benar katamu hai orang pendatang, sisa aku sendiri ini, telah di habiskan oleh biawak raksasa dan kerbau berkepala dua . berkata lagi Onggobo , tidaklah benar bahwa sisa engkau penghuni rumah, engkau masih bersama dua gadis cantik “ setelah ke duanya bertengkar akhirnya Latuanda mengaku , “ ya benar hai engkau orang datang “ aku mempunyai dua orang gadis . seorang anakku sendiri dan seorana lagi anak piaraku yang bernama Elu Kambuka Sioropo Karembutano.
Diantara Latuanda tamunya naik ke rumah penglihatannya. Latuanda bahwa orang yang datang itu sungguh besar badannya lalu di ambilnya periuk besar untuk memasakannya dan menyembelih  seekor kerbau untuk lauknya tapi Onggobo hanya memakan segenggam nasi dan sepotong telur.
Yang mengherankan Latuanda adalah mengapa Onggobo sewaktu-waktutubuhnya menjadi kecil kemudian membesar lagi . Latuanda menggangap Onggobo sebagai orang mubarak, waliluyah, banyak ilmu.
Lama-kelamaan Onggobo dikawinkan dengan Elu Kambuka Sioropo Korembutano ,keturunan Onggobo dan Elu inilah yang kemudina menjadi nenek moyang dan raja-raja di Konawe hingga saat ini. Karena Elu turunan turunan bangsawan dari wekoila.Sedangkan turunan dari putri Latuanda sendiri turunan dari mereka yang bukan bangsawan.

3.    Legenda
Tarambu’uno Tamono O’osu Mekongga
Saritano, laa o’asotembono Wonuo Sorume (hende ni’ino tamono Wonua Mekongga) nokonoi abala kadu’ito owoseno.laa o sui kongga masa’ako mohitupi nggiroo wonua. Koa oleu sui kongga tudu monggamo , monggamo lumasngge, ronga monggamo koleleno to’ono dadio, hendeto karambau, o sapi ,o bee,.Keno kadadiano hende ni’ino lau-lau , nggau-nggauno koleleno to’ono dadio nggo’opu.
Too’no dadio Wonua Mekongga tewere ronga motaku .keno koleleno opu’ito nggo ihiroto kinokaa. Ieto sabano aro motaku peluarako ari raha mololaha toro’aha. Kondu’uma peruku’aro to’ono dadio i wuta molua tamono Wuta Molua Benbe.wuta molua ni’ino pesala’ano to’ono dadioa lako i pambahoraro. Tembu’uto kunio to’onodadio barani meruku.
Laa aso tembo, topodea obawo keno i Wonua Solumba (hende ni’ino tamono Balendete) laa aso to’ono nomotau ronga kabala tamono i Larumbalangi. Laa golo-golono ronga aso lawatoloa pusaka pinakeno luma’a. Lakonoto inoliwi opio-pio to’ono nggo teposuangge to’ono kabalai Wonua Solumba.Keno teembe iamo nokinamo sui kongga, lakonoto melalonggasu ronga mehiako i pu’unggasu owose.Dungguro i Wonua Sorumba, to’ono tinena ni’eno sumaru’i laa kadadia i wonuaro ke i Larumbalangi.
“Iyamoto i tewere laa kadadia ne’eno. Biar ku ta’etai komiu, aika mokotaha’i nggiro’o sui kongga.” Note’eni Larumbalangi ronga komo-komo.”keno teembe? Iyamo nggo molawa nggriro’o sui kongga, peluarako tokaa ari raha koki barani.” Note’eni to’ono tinena.
Hende ne’ene peohai. Kombului kowuna ato mowai kowuna dadi-dadio. Aringgiro’o pololaha langgai moseka rongga mokora nggo pomba’anino sui kongga i tinga wuta molua. Ano , walai nggitu’o to’ono ronga kowuna mendilo ronga ponda’ake o amba! Parendano Larumbalangi.
Arino modeai pombokondauno, pekule’hiroto i wonuano mokodunggu’ikehiro oliwino Larumbalangi.to’ono dadio i wonua nggitu’o mounda’ito mbera langgai moseka’hako nggo eta’i sayembara numonangi’i sui kongga.
Mohina, o etu langgai moseka leu ari mbera wonua mohadiri nggiroo undanga.rombekombulu irai rahano tonomotuo ono Wonua Mekingga.
“Hende ne’eno peohai nggu luwuakono! Inae toka tepili tewali pomba’ani ronga ano tule’ika kumala’i sui kongga , keno iee o ato, nggo’ieto tewali Anakia. Ronga keno iee Anakia, nggo’ieto tewali bokeo i wonua ne’eno.” Tonomotu’ono Wonua me’pidato.
Aringgo’o sayembara pinokolako’ito kadu’ito motindino. Oa-oaso to’ono nopokiki’i kabalano. Aringgiro’o sayembara nggiro’o niponanggi’i o ato tamono Tasehea ari wonua Laeya.
Laa aso tembo, Tasahea niropo i Wuta Bende  nggo pomba’ani sui kongga. Laa aso tembo, no laa moia i tonga wuta molua, o ato nggiro’o niwula ako kowuna mendilo. Iee pinowehi o aso kowuna mendilo laa rutono. Luwuako sadia ito, luwuako to’ono dadio mehiako i pu’unggasu libutano wuta lua. Moia’ito Tasehea dowono i tonga lapanga umo’olui ne’eno sui Kongga.
Merambi tongga oleo . lahuene mengga masa’ako ano roroma. Nggiro’o tandanoto sui kongga noki’ito pa’anino. Sana’ito penaono siu kongga nokondo’i to’ono laa menggokoro i tonga wuta molua Bende. Ronga mearo’ito iee lumaa oputo’ito kumukisi’i Tasehea. Mano, salawaiha’ito sui kongga. Konohori umalu’i kumikisi’i Tasahea , wotoluno rong panino no’ohuoke kowuna mendilo.
Tasehea kono powei o tembo. Ronga merare, nokalikeeto kowuna mendilo ine wungguarono sui kongga. Ronga sua meia, sui konnga gumuguriri’ito mohakino ronga pinapakalihi panino. Tebindano panino ari kowuna mendilo, sui nggiro’o lumaa me’ita’ito lako i kambo Pomalaa ronga luma’i i kambo Ladongi, Torobulu, Amesiu,Malili, ano pulo Maniangi. Mano, kono hori dunggu i Pomalaa, iee moisa’ito i mumuosu me’ita. No oputo ponduleno, sambe mate’ito i mumu osu me’ita.
To’ono dadio Wonua Mokongga mokoehe-ehero totambe’i Tasahea, iee numangi’i sui kongga, lakoroto tekonggokee o pitu wingi pitu o leo. Mano, pewisono oleo kopitu, masa’ako aro moa’i momate-mete. Oleo nggiro’o, tebawo haki mate. Dadio to’ono mate nokono’i  haki tia ronga pe’ua. Woila, pu’unggasu, ronga pinopahono to’ono dadio meule. Ko’nio teaso pinopaho to’ono dadio nggo pinopuro, te’embe no’opui kumaa’i o ule. Dadio to’ono mate me’aro.
To’ono dadio laa toro mototaku mbekule monggi’i kadadia ne’eno, nggo umatasio nggiro’o masa’ala. Meoliwihiroto opio-pio to’ono i Wonua Solumba ano teposuangge Larumbalangi.
“wonua mami nokono’i bala,” laa o aso to’ono tinena melaporo.
“abala hawoto kumono komiu?” laa mesuko’i Larumbalangi.
“iye, inggomiu! Wonua mami nokono’i abalas.” Note’eni o asdo to’ono tinena rongga sumarita’i luwuako laa kadadia i wonuaro.
Meambo’ito hende nggitu’o bawono. Pekuleto i wonua miu. Kono nggo menggau ne’eno abala ano ari.” Note’eni Larumbalangi. Arino to’ono tinena lako, Larumbalangi notut’i matano ronga nopoko’asoi pombe hawano. Lakonoto mobasa-basa o doa rongga tumange kaeno inaruo i lahuene.
“ya Ombu Ala Ta’ala! Poko salama’ikona to’ono dadio i wonua Mekongga ari abala. Poko tudu’i kona te;embe mateno sui kongga ronga ule-uleno ano rongai i woi mosolo.” Hende ne’eneto pongoni doano Larumbalangi.
Laa aso tembo, Ombu Ala Ta’ala pokomadupa’ike doano Larumbalangi. Sahea lahuene i Wonua Mekongga mengga tewali roroma. O gawu tewali me’eto. Kono menggau,peia’ito o bundu ronga o kila. Tudu’ito o usa ko’onio tetoroano sambe pitu oleo pitu wingi . luwuako woila i Wonua Mekongga mosolo o wose. Mateno sui kongga nowawe’ito o solo. Ronga ule-uleno laa-laa tuda’i ine tawa ronga i pu’unggasu luwuako tondu’ito.
Ieto sabano, o tahi i wonua Menggako dadio wetwno ronga watu pasino. O;osu laha’ano mo’isa ronga laha’ano pinepate’ano sui kongga tinamo’akoito Osu Mekongga, batuano osu mate’ano sui kongga. Mbakoe woila owose tondu’ano wata mateno sui kongga tanamo’akoito Woila Lamekongga, batuano woila tondu’ano sui kongga.
Ata langgai ari wonua Loeya numangi’i sui kongga tinene’ito tewali Anakia. Mbakoe Larumbalangi ari wonua solumba tinene’ito tewali Bokeono wonua Mekongga, ie’ito wonua laa pitu pamarenda’a teto’oriako “tonomotu’o.”     


Puisi
1.    Mantra
Mantra Nabi Baka ( bambu satu tunas )
Inggo’o nabi baka,akuto rumuruhi ndawa’ako tembu’utu
Nolaa owuta anolaa doule,tembu ‘uto  nola owuta onolaa towoa,
Iamo korunggu-runggu , aukohaki-haki
Kula kumoapi , iko’o parewano’ au waraka au mendidaho
Au morini mbu’u mbundi monapa mbu’u ndawaro
Hende laa menggokoro i mata iwoi merehu-rehu i tahi lua

Terjemahan
Mantra Nabi Baka
Anda bambu
Saya akan menyiramkan daun-daun
Sejak ada tanah sudah ada daun daule
Sejak ada tanah sudah ada daun temu lawak
Jagan kamu kurang sehat, kamu sakit-sakit
Saya sedang mencukupkan perlengkapannya, kamu kuat sehat walafiat
Kamu dingin sedingin pangkal pisang,
Lembab selembab pangkal sagu
Seperti sementara berdiri dimata air, duduk di lautan luas.
2.    Syair
Ino wingi ina susua               
Umurumu ronga tepotira            
niino wingi teposua                
Mooru-oru toteporaa


Terjemahan

Malam ini malam yang sunyi
Umur dan pertengkaran
Malam ini kita bertemu
3.Teka-teki
    Teka-teki dalam bahasa Tolaki biasa disebut dengan Singguru. Dimana Singguru ini sering digunakan oleh orang-orang yang sedang menuai padi pada zaman dahulu. Namun pada saat sekarang ini Singguru-singguru tersebut mengalani kepudaran akibat prkembangan zaman, dan hampir punah karena masyarakat suku Tolaki sudah jarang bahkan sampai tidak pernah lagi mengucapkan Singguru-singguru tersebut.
a.  Tuko-tukono idoodi taapinoko doa (Ousa)
Tongkat-tongkatnya si Doodi tidak terhitung   (Hujan)
b. pu`uno oue itongano owuta imumuno kaluku (Kurowuta)
Dipangkalnya rotan ditengahnya tanah dipuncaknya kelapa (Periuk tanah)
c. Tolewa dumodapa meolo sambanggae (Osowi)
Kupu-kupu merayap diantara jari-jari (Ani-ani/pemotong padi)
d. O omba kiniku merano o aso metotoa (Mekunggu)
 Empat kerbau berkubang satu mengawasi (Mengepal)

4. Ungkapan
a. Kileu meraisako itadea ronga penao mowila maroamami.
    Kami datang menghadap dihadapanmu dengan hati putih bersih kami.
b. ie inggomiu mberiou sangia , mata oleo mata wula ana wula
wahai engkau dewa yang di sembah, dewa yang di sanjung, moyang yang di puja   matahari, bulan dan bintang- bintang yang. di tinggikan

5.Pantun
a.    Pantun muda-mudi
Inaku ino ari mowila
Lako lalo ialusi
Teposua tina mowila
Inggoo doki kolosi-losi
b.    Pantun Agama
Toro medulu ronga pesawa
Tomasagena toro meambo
Mowoa wotohu mohela owuta
Upe hawaikaisipa meambo

c.    Pantun Orang Tua
Usa wingi usa oleo
Tuduono i kambo sambuli
Aukai meoli-oli

d.    Pantun Jenaka
Inaku ino ari puupi
nggo lako lalo imanu mohewu
inaku ino ari moipi
kiteposua tina mohewu.

TERULANG KEMBALI

Perjalanan panjang yang telah kulalui dalam menapaki persaingan kehidupan yang semakin naïf bagi aktor-aktor yang bermodal aji mumpung berharap belas kasih orang yang tak pernah diinginkan bagai dalam dilema menentukan jawaban pilihan objektif lembaran-lembaran  ujian yang akan memutuskan lulus tidaknya seseorang dalam mencari makna kehidupan.
    Kisah-kisah telah tertulis dalam buku catatan sang penjaga setiap insan, catatan baik dan buruk yang tak pernah disadari bahwa aku, kamu, dan kalian semua telah melakukannya entah sendiri ataupun berkelompok. Bagai sebuah perlombaan 17 Agustus  yang dipadati para petarung-petarung hebat untuk saling bersaing merebut satu kata yaitu “pemenang” yang akan menjadi kebanggaan bagi dirinya dan menjadi perbincangan heboh dalam surat kabar tak luput pula bagi para penggosip dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah berubah dan yang selalu ada dalam setiap wawancara yaitu apa, dimana, kenapa, siapa mengapa dan bagaimana (adiksimba) kejadian tersebut  terjadi.
    Hanya pemenanglah yang mendapat piala kemenangan yang menjadi rebutan dalam beberapa pekan meninggalkan rutinitas ibu-ibu didapur, gadis-gadis yang berhias menonjolkan kecantikannya dan para lelaki yang mengumbar harapan memadati lapangan yang hanya ramai pada bulan Agustus yang akan menanti sepi kembali saat pertandingan usai hanya sisa-sisa kehebohan para sporter dan warna-warni bungkusan makanan dan botol aqua memamerkan keberadaan mereka yang berserakan yang tak sempat menjadi satu dalam bak-bak kuning para petugas kebersihan.
    Begitupula kehidupan yang kita jalani hanya berputar pada satu kebiasaan yang akan menjadi menu esok harinya dan tak tau kejutan apa yang menanti, menunggu dan berharap setitik sinar kan menyapa dalam doa para kekasih rasul. Kehidupan yang menguji setiap insan mengenai arti hidup yang sebenarnya. Rasa sakit, senang, marah, sabar dan arti menunggu untuk sesuatu yang lebih baik, semua telah dirasakan bagi insan yang beruntung bisa menghirup segarnya udara di pagi hari dan sesaknya kehidupan yang penuh persaingan namun berada pada jalan yang benar mengikuti peraturan yang telah disepakati.
Apakah arti hidup yang sebenarnya? Mungkin bagi setiap orang itu penting untuk diketahui agar mereka tau apa sebenarnya tujuan yang harus dicapai dari setiap hembusan nafas yang sangat berharga. Namun bagi sebagian orang itu tidak berarti selama keinginan dan kepuasan yang telah diraih itu sudah cukup, dibutakan oleh harta dan jabatan dibawah linangan air mata anak-anak yang tak sempat menyicipi hidangan mewah dan keringat orang-orang yang tak mampu tidur nyenyak karena mereka tersadar dari mimpi di siang bolong menunggu janj-janji para pemimpin negeri. Mengapa jawaban kehidupan begitu sulit tak semudah menjawab ujian dengan hanya membuka lembaran kertas yang telah tersusun dengan jawaban rapi maka senyum kemenangan menanti. Sesusah itukah mencarinya? Ataukah kesabaran manusia yang telah ditentukan batasnya sendiri oleh manusia itu, ataukah mungkin telah salah  memilih pilihan.
    Perasaan manusia tak bisa disatukan menjadi baik, karena itu adalah kehendak sang pencipta. Menjadikan perbedaan agar hidup berwarna dan bermain dalam kejamnya dunia yang sebenarnya mencari para pemenang sejati, jalaannya menujunya  telah memancarkan sinar kebesaran dan keagungan  dalam kitab suci yang menjadi pedoman manusia. Namun semua itu tidak berjalan mulus sesuai keinginan manusia karena telah diatur agar kita manusia dapat menentukan pilihan yang jawabannya ada di depan mata hanya ditutupi oleh sebercak noda dimana kita diberi tugas  bisakah kita menghapus noda itu dan seberapa kuat kita menuju-Nya. Hidayah itu akan muncul bagi orang-orang pilihan jadi berbahagialah bagi kalian yang telah dipilih.
    Rutinitas yang memadati kegiatan kita akan berulang terus-menerus, perasaan yang bergejolak dalam dada itupun akan terulang semua kebiasaan juga akan terulang, masa-masa yang telah terlewati akan terulang dalam kehidupan yang tak pernah kita sadari bahwa itu telah terjadi kembali. Dari kecil kita telah dia ajar tentang kebaikan dan berusaha menghindari keburukkan dan kita juga akan mengajarkan kelak pada anak-anak kita, hal tersebut telah menjadi menu hidangan dalam hidup yang tak akan terhapus karena itu adalah ketentuan yang tak dapat ditawar-tawar. Kelak kehidupan berakhir maka rutinitas itu akan berakhir namun jika nyawa masih bersarang dalam tubuh maka hal tersebut akan terulang kembali tergantung bagaimana kita menghargai dan memaknainya.
Juni 2012.
SERLIN